Selamat Datang Diucapkan Kepada Semua Pengunjung Blog Ini Segala Komen Dan Saranan Teman Teman Amat Seri Hargai
Memaparkan catatan dengan label Peribahasa. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Peribahasa. Papar semua catatan

Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "A"


Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "A"

01. Ada air, adalah ikan.
Maknanya: Ada negeri tentulah ada rakyatnya.

02. Ada aku dipandang hadap, tiada aku dipandang belakang.
Maknanya: Kasih sayang hanya waktu berhadapan saja, setelah berjauhan lalu dilupakan.

03. Ada angin, ada pokoknya (pohonnya).
Maknanya: Segala sesuatu mestilah ada asal mulanya.

04. Ada bangkai, adalah hering.
Maknanya: Ada perempuan jahat, adalah lelaki jahat yang mengunjunginya.

05. Ada batang mati, adalah cendawan tumbuh.
Maknanya: Di mana juga kita tinggal, akan ada rezeki kita.

06. Ada batang, cendawan tumbuh.
Maknanya: Tiap-tiap negeri ada undang-undang dan adat resamnya masing-masing.

07. Ada beras, taruh dalam padi.
Maknanya: Rahsia hendaklah disimpan baik-baik.

08. Ada biduk, serempu pula.
Maknanya: Tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki.

09. Ada bukit, ada paya.
Maknanya: Ada baik, ada jahat; ada miskin, ada kaya.

10. Ada gula, ada semut.
Maknanya: Di tempat orang mudah mendapat rezeki, banyaklah orang berkumpul.

11. Ada hari, ada nasi.
Maknanya: Asal masih hidup, tentu akan beroleh rezeki.

12. Ada hujan ada panas, ada hari boleh balas.
Maknanya: Perbuatan jahat itu sewaktu-waktu akan mendapat balasan juga.

13. Ada jarum hendaklah ada benangnya.
Maknanya: Tiap-tiap suatu itu ada pasangannya.

14. Ada kerak, ada nasi.
Maknanya: Tiap-tiap suatu kejadian itu tentu ada bekasnya.

15. Ada laut, ada perampok.
Maknanya: Tiap-tiap suatu itu ada pasangannya.

16. Ada nasi (bernasi) di balik kerak.
Maknanya: Masih ada sesuatu yang belum diselesaikan atau belum diperhatikan.

17. Ada nyawa ada rezeki.
Maknanya: Asal masih hidup, tentu akan beroleh rezeki.

18. Ada padang, ada belalang.
Maknanya: Ada negeri tentulah ada rakyatnya.

19. Ada padi masak, adalah pipit.
Maknanya: Di tempat orang mudah mendapat rezeki, banyaklah orang berkumpul.

20. Ada padi semua kerja jadi, ada beras semua kerja deras.
Maknanya: Orang yang mampu (kaya, berilmu) segala maksudnya mudah tercapai.

21. Ada padi, segala menjadi.
Maknanya: Orang yang mampu (kaya, berilmu) segala maksudnya mudah tercapai.

22. Ada pasang surutnya.
Maknanya: Untung dan malang tidak tetap.

23. Ada persembahan ada kurnia.
Maknanya: Berbuat baik dibalas baik.

24. Ada rotan, ada duri.
Maknanya: Dalam kesenangan tentu ada kesusahannya.

25. Ada rupa, ada harga.
Maknanya: Harga barang menurut rupanya (keadaannya).

26. Ada sampan hendak berenang.
Maknanya: Sengaja bersusah payah.

27. Ada seperti tampaknya apung-apung.
Maknanya: Barang yang dihajati telah ada tetapi belum tentu dapat diambil atau dipakai.

28. Ada sirih hendak makan sepah.
Maknanya: Ada yang baik, hendakkan yang buruk.

29. Ada tangga hendak memanjat tiang.
Maknanya: Berbuat sesuatu dengan tidak menurut aturan.

30. Ada ubi ada batas, ada masa boleh balas.
Maknanya: Perbuatan jahat itu sewaktu-waktu akan mendapat balasan juga.

31. Ada ubi ada talas, ada budi ada balas.
Maknanya: Berbuat baik dibalas baik, berbuat jahat dibalas jahat.

32. Adat periuk berkerak, adat lesung berdedak.
Maknanya: Tiap-tiap usaha memerlukan ketabahan dan kerajinan.

33. Adat pulau limburan pasang.
Maknanya: Adat hidup ialah bantu-membantu, yang kaya membantu yang miskin dan yang berilmu membantu yang bodoh, yang berkuasa melindungi yang lemah.

34. Adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung (betung = Sejenis buluh besar).
Maknanya: Segala perbuatan ada adat dan peraturannya masing-masing.

35. Adat teluk timbunan kapal.
Maknanya: Orang yang berpangkat atau berpengaruh biasanya menjadi tempat tumpuan orang mengadukan halnya.

36. Adat tua menahan ragam.
Maknanya: Orang tua-tua terpaksalah menahan (menderita) berbagai-bagai godaan yang tak menyenangkan hati kerana perbuatan anak cucunya yang tiada berjalan di atas kebenaran.

37. Adat yang kawi, syarak yang lazim (kawi - kuat, sakti).
Maknanya: Adat kebiasaan merupakan undang-undang yang berlaku dalam pergaulan dan hukum-hukum agama merupakan undang-undang negeri yang berjalan seiring.

38. Adat yang menurun, syarak yang mendaki.
Maknanya: Adat dapat menuju kerendahan dan tidak sanggup menghadapi pergolakan masa, tetapi syarak menuju ketinggian dan dapat mengatasi segala gerakan yang menentangnya.

39. Agak lebih daripada agih.
Maknanya: Banyak bicara, sedikit kerja.

40. Agak-agak bertutur malam hari.
Maknanya: Mesti selalu beringat-ingat ketika memperkatakan sesuatu.

41. Agih-agih kungkang (kungkang = kera kecil).
Maknanya: Terlampau murah hati atau suka memberi, hingga menderita kesusahan sendiri.

42. Agung susut, pongah masih (agung - besar; pongah - angkuh).
Maknanya: Kebesaran sudah hilang, tetapi keangkuhannya masih ada juga.

43. Air beriak tanda tak dalam.
Maknanya: Banyak bercakap tanda tiada berilmu.

44. Air besar sampan tak hanyut.
Maknanya: Maksud tidak tercapai.

45. Air besar, batu bersibak (sibak - cerai, menepi).
Maknanya: Saudara dan sahabat berpecah-belah apabila timbul perselisihan besar.

46. Air cucuran atap, jatuhnya kepelimbahan (pelimbahan - tempat air yang kotor).
Maknanya: Sesuatu itu, meskipun sedikit, akan menurut asalnya juga.

47. Air dalam karang menonggok, setanggi campur kemenyan , gula tertumpah pada kanji (menonggok - melonggok, menimbun).
Maknanya: Usaha yang berhasil baik.

48. Air dalam terenang (terenang - tempat air daripada tanah liat).
Maknanya: Hidup yang tenang dan tenteram.

49. Air dalam, berenang (berkumbah); air dangkal, bercebok (kumbah - mencuci dalam air).
Maknanya: Sesuaikanlah perbelanjaan menurut keadaan penghasilan kita.

50. Air di daun keladi.
Maknanya: Memberi nasihat dan ajaran yang sia-sia.

51. Air di tulang bumbungan, turunnya ke cucur atap. Maknanya: Sesuatu itu, meskipun sedikit, akan menurut asalnya juga.

52. Air dicencang tiada putus.
Maknanya: Dua orang yang bersaudara tidak dapat dipisahkan oleh perselisihan.

53. Air didih menganak sungai.
Maknanya: Hiburan yang sangat mewah.

54. Air digenggam tiada tiris.
Maknanya: Sangat berhati-hati mengeluarkan wang.

55. Air diminum sembiluan (sembiluan - rasa pedih seperti dihiris dengan sembilu).
Maknanya: Sangat sedih, sehingga tidak enak makan dan minum. seperti dihiris dengan.

56. Air diminum terasa duri, nasi dimakan terasa sekam.
Maknanya: Sangat sedih, sehingga tidak enak makan dan minum.

57. Air ditetak tiadakan putus.
Maknanya: Dua orang yang bersaudara tidak dapat dipisahkan oleh perselisihan.

58. Air gedang menghanyutkan (gedang - besar).
Maknanya: Orang yang pendiam itu biasanya berilmu dan dapat melakukan pekerjaan yang besar-besar.

59. Air jernih, ikannya jinak.
Maknanya: Negeri yang aman dan teratur, rakyatnya berbudi bahasa.

60. Air keruh, limbat keluar.
Maknanya: Negeri yang huru-hara, orang jahat mencari keuntungan.

61. Air lalu kubangan tohor (tohor - dangkal, kering).
Maknanya: Penghasilan tidak cukup, habis bulan habis gaji.

62. Air laut hijau siapa celup?
Maknanya: Kemegahan dan kemewahan tidak payah diheboh-hebohkan.

63. Air mata jatuh ke dalam.
Maknanya: Berdukacita dengan diam-diam.

64. Air mata jatuh ke perut.
Maknanya: Berdukacita dengan diam-diam.

65. Air mudik sungai, semua teluk diranai (ranai - jalani (boleh jadi ranahi).
Maknanya: Orang pemboros berbelanja tanpa perhitungan.

66. Air orang disauk, ranting orang dipatah, adat orang diturut.
Maknanya: Hendaklah patuh kepada undang-undang negeri yang kita diami.

67. Air pun ada pasang surutnya, takkan pasang selalu dan surut senantiasa.
Maknanya: Nasib manusia tidak dapat ditentukan.

68. Air sama air menjadi satu, sampah ke tepi juga.
Maknanya: Jangan ikut campur dalam perselisihan orang bersaudara, apabila mereka berbaik kembali, kita akan tersisih ke tepi.

69. Air setitik dilautkan, tanah seketul digunungkan. Maknanya: Membesar-besarkan perkara yang kecil.

70. Air surut kapar hilir bersama, air pasang ia tersangkut.
Maknanya: Di dalam usaha yang tidak menguntungkan, diajak bersama-sama, dan apabila usaha itu berhasil, ditinggalkan.

71. Air susu dibalas dengan air tuba.
Maknanya: Kebaikan dibalas dengan kejahatan.

72. Air tawar secawan dituangkan ke dalam laut, takkan dapat menghilangkan masinnya.
Maknanya: Pertolongan yang sedikit tidak dapat meringankan beban kesengsaraan yang besar.

73. Air tenang menghanyutkan.
Maknanya: Orang yang pendiam itu biasanya berilmu dan dapat melakukan pekerjaan yang besar-besar.

74. Air tuba dibalas dengan air susu.
Maknanya: Kejahatan dibalas dengan kebaikan.

75. Air yang jernih, sayak yang landai (sayak - tempurung kelapa).
Maknanya: Segala sesuatu berlaku dengan adil dan benar.

76. Air yang keruh-keruh kerak, alamat buaya di hulunya (keruh-keruh kerak - tiada jernih).
Maknanya: Daripada perkataan dapat dimaklumi niat di dalam hati.

77. Air yang tenang, jangan disangka tiada berbuaya. Maknanya: Orang yang diam jangan disangka pengecut.

78. Akal akar berpulas tak patah.
Maknanya: Orang yang pandai, takkan mudah kalah dalam perdebatan.

79. Akal labah-labah, di gua buruk suka merakut (merakut - memasang jaring).
Maknanya: Orang jahat yang suka menipu orang.

80. Akal sebagai makan nasi lecek.
Maknanya: Fikiran seperti anak-anak.

81. Akal tak sekali datang, runding (fikiran) tak sekali tiba.
Maknanya: Segala sesuatu tidak selesai sekali gus melainkan beransur-ansur.

82. Akan dijadikan tabuh, singkat; akan dijadikan gendang , berlebih.
Maknanya: Ilmu pengetahuan yang serba tanggung.

83. Akan memikul tiada berbahu, akan menjunjung kepala luncung.
Maknanya: Tiada berdaya mengerjakan sesuatu pekerjaan, kerana tiada berilmu atau tidak berwang.

84. Akan mengaji, surat 'lah hilang; akan bertanya, guru 'lah mati.
Maknanya: Dalam keadaan yang serba salah.

85. Akan pembasuh kaki (tangan).
Maknanya: Hadiah kepada orang yang berjasa.

86. Akan surut, air 'lah besar; akan lalu, jalan 'lah semak.
Maknanya: Dalam keadaan yang serba salah.

87. Akar terjumbai tempat siamang berpegang, dahan mengajur tempat tupai menegun (jumbai - rumbai; menegun - berhenti sebentar).
Maknanya: Daripada keterangan, orang dapat mengetahui salah atau benarnya perbuatan seseorang.

88. Akik disangka batu (akik - Sejenis batu berwarna).
Maknanya: Sesuatu yang menghina.

89. Aku alah engkaulah menang.
Maknanya: Tidak mahu mengaku kalah.

90. Aku alah, engkau tak menang.
Maknanya: Orang bodoh yang tak mahu mengakui kekalahannya.

91. Aku nampak olah (olak), kelibatmu sudah kutahu (olah - tingkah laku; kelibat - tabiat).
Maknanya: Kerana tingkah laku, maksudnya ketahuan.

92. Alah bisa, tegal biasa.
Maknanya: Apabila telah biasa melakukannya, maka tiada terasa lagi kesukarannya; pengalaman praktis lebih baik daripada teori.

93. Alah di rumpun betung.
Maknanya: Kekalahan yang belum memuaskan hati kepada pihak yang kalah.

94. Alah limau oleh benalu (benalu - tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di pohon lain).
Maknanya: Orang yang lama dialahkan oleh orang yang baru.

95. Alah mahu, bertimbang enggan; cungkil merih akan pembayar (merih - pembuluh nafas).
Maknanya: Tidak menepati janji dan menentang balik orang yang diberinya janji itu.

96. Alah membeli, menang memakai.
Maknanya: Barang yang baik memang mahal, tetapi dapat lama dipakai.

97. Alah menang tak tahu, bersorak boleh.
Maknanya: Tidak berpihak ke mana-mana dalam sesuatu perlawanan.

98. Alah pinta dibuat sempena.
Maknanya: Biar bagaimanapun diharapkan, kalau bukan hak tidaklah diperoleh.

99. Alah sabung, menang sorak.
Maknanya: Biarpun kalah, tetapi masih tetap tinggi juga cakapnya.

100. Alang berjawab, tepuk berbalas (alang - pemberian, hadiah).
Maknanya: Baik dibalas dengan baik, jahat dibalas dengan jahat.

101. Alang dijawat, tepuk dibalas.(alang - pemberian, hadiah).
Maknanya: Baik dibalas dengan baik, jahat dibalas dengan jahat.

102. Alang-alang berdakwat, biarlah hitam (alang-alang - tanggung-tanggung).
Maknanya: Berbuat sesuatu jangan kepalang tanggung.

103. Alang-alang berminyak, biar licin.
Maknanya: Berbuat sesuatu jangan kepalang tanggung.

104. Alang-alang menyeluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan.
Maknanya: Kalau sudah terlanjur jahat, biarlah diperoleh hasil daripadanya.

105. Alangkan elok berbini tua, perut kenyang pemanja datang.
Maknanya: Orang beristeri tua biasanya beroleh kesenangan kerana disayangi oleh isterinya.

106. Alim bagai katak di tepi air.
Maknanya: Orangnya alim (banyak ilmu) tetapi dia sendiri tidak mendapat faedah daripada ilmunya itu.

107. Alim biasa menghukum syarak.
Maknanya: Hanya orang yang alim saja yang boleh membuat hukum syarak.

108. Alpa negeri alah, sia-sia hutang tumbuh.
Maknanya: Alpa dan lalai mengakibatkan bencana.

109. Alu pencungkil duri.
Maknanya: Tak mungkin dilakukan; pekerjaan yang sia-sia.

110. Alur bertempuh, jalan berturut.
Maknanya: Dilakukan menurut adat yang biasa.

111. Amak berlela, amak berupa (amak - terlalu banyak).
Maknanya: Banyak tabiat, banyak olehnya.

112. Ambil pati, buangkan ampas.
Maknanya: Yang baik dipakai, yang tak baik dibuang.

113. Amra disangka kedondong (Amra - Sejenis mangga). Maknanya: Sesuatu yang baik disangka buruk, hanya kerana melihat rupanya sama dengan yang buruk.

114. Anak anjing takkan menjadi anak musang jebat. Maknanya: Orang yang tidak berilmu tidaklah mungkin mendapat kedudukan baik.

115. Anak ayam kebasahan bulu.
Maknanya: Gelisah resah; menjijikkan.

116. Anak badak dihambat-hambat.
Maknanya: Sengaja mencari bahaya (kesukaran dan sebagainya).

117. Anak baik, menantu molek.
Maknanya: Sangat berbahagia.

118. Anak di riba diletakkan, kera di hutan disusui.
Maknanya: Urusan sendiri ditinggalkan kerana mementingkan urusan orang lain.

119. Anak dipangku dilepaskan, beruk di hutan disusukan.
Maknanya: Urusan sendiri ditinggalkan kerana mementingkan urusan orang lain.

120. Anak harimau diajar makan daging.
Maknanya: Orang yang zalim diberi perangsang untuk membuat aniaya.

121. Anak harimau jangan diajak bertampar, ingat-ingat kukunya.
Maknanya: Jangan mencari musuh dengan orang yang lebih kuat dan lebih persediaan alat senjatanya.

122. Anak harimau jangan dibela pelihara.
Maknanya: Jangan berbuat baik dengan orang yang suka berbuat jahat.

123. Anak harimau takkan menjadi anak kambing.
Maknanya: Orang yang berani takkan penakut.

124. Anak ikan dimakan ikan, tahu makan tahu simpan. Maknanya: Jikalau tahu membuat sesuatu kerja, hendaklah tahu menyimpan rahsianya.

125. Anak kambing takkan menjadi anak harimau.
Maknanya: Orang yang pengecut tetap pengecut.

126. Anak kandung ditimang-timang, anak tiri ditengking-tengking.
Maknanya: Kaum keluarga sendiri dilebihkan daripada orang asing, atau rakyat sendiri lebih diutamakan daripada orang dagang.

127. Anak kera hendak diajar memanjat.
Maknanya: Hendak mengajar orang yang sudah ahli.

128. Anak kucing menjadi harimau.
Maknanya: Orang miskin menjadi kaya, atau rakyat biasa menjabat pangkat tinggi dalam pemerintahan.

129. Anak kuda bulu kasap.
Maknanya: Anak muda yang riang gembira.

130. Anak kunci jahat, peti derhaka.
Maknanya: Suami yang jahat, lambat-laun akan ditentang oleh isterinya.

131. Anak orang, anak orang juga.
Maknanya: Kalau bukan hak kita tidaklah ada gunanya.

132. Anak seorang, menantu malim.(malim - ahli agama) Maknanya: Sangat berbahagia.

133. Anak seorang, penaka tidak (penaka - boleh dipandang sebagai; semisal, seumpama).
Maknanya: Mempunyai barang hanya sebuah saja.

134. Anak sungai lagi berubah, inikan pula hati orang. Maknanya: Pendirian yang tidak tetap.

135. Angan lalu, faham tertumbuk.
Maknanya: Sesuatu hal yang banyak halangannya; kemahuan ada tetapi tidak berdaya.

136. Angan-angan menerawang langit.
Maknanya: Selalu mencita-citakan segala sesuatu yang tinggi.

137. Angan-angan mengikat tubuh.
Maknanya: Besusah hati kerana memikirkan perkara yang bukan-bukan.

138. Angguk enggan, geleng ia.
Maknanya: Lain di mulut, lain di hati.

139. Angguk enggan, geleng mahu, unjuk tidak diberikan. Maknanya: Lain di mulut, lain di hati.

140. Anggup-anggip bagai rumput di tengah jalan (anggup-anggip - terkulai-kulai).
Maknanya: Hidup yang serba susah.

141. Angin berputar, ombak bersabung.
Maknanya: Perkara yang amat sulit.

142. Angin bersiru, kami tahu.
Maknanya: Sudah tahu akan niat seseorang (bersiru - beralih tujuan).

143. Angin bersiru, ombak bersabung.
Maknanya: Perkara yang amat sulit.

144. Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam.
Maknanya: Berita-berita yang buruk tak dapat disembunyikan, kelak akan tersiar juga.

145. Angkat batang keluar cacing gelang-gelang.
Maknanya: Berpenat-penat mengerjakan pekerjaan orang yang tinggal terbengkalai, tetapi suatu faedah pun tidak diperoleh daripadanya.

146. Angkuh terbawa, tampan tertinggal.
Maknanya: Baik rupanya, tetapi buruk sikapnya.

147. Angus (hangus) tiada berapi, karam tiada berair. Maknanya: Menderita kesusahan kerana kematian atau kehilangan kekasih.

148. Anjing bercawat ekor.
Maknanya: Pergi atau menghindar kerana malu dan sebagainya.

149. Anjing biasa makan tahi, jika tak makan mencium ada juga.
Maknanya: Orang yang biasa berbuat jahat, sekali-sekala teringat juga akan mengulangnya lagi.

150. Anjing dengan tahi, tidak makan atau menjilat, tetapi mencium ada juga.
Maknanya: Orang yang biasa berbuat jahat, sekali-sekala teringat juga akan mengulangnya lagi.

151. Anjing diberi makan nasi takkan kenyang.
Maknanya: Sia-sia memberi basihat yang baik kepada orang jahat.

152. Anjing ditepuk menjungkit ekor.
Maknanya: Orang hina apabila dihormati, sombonglah jadinya.

153. Anjing galak, babi berani.
Maknanya: Bertemu lawan yang sepadan; berani sama berani, keras sama keras.

154. Anjing itu, kalau dipukul sekalipun, berulang juga ia ke tempat bangkai yang banyak tulang.
Maknanya: Orang yang tamak, sekalipun dikata-katai, namun ia tidak akan malu.

155. Anjing itu, meskipun dirantai dengan rantai emas, nescaya berulang-ulang juga ia ke tempat najis.
Maknanya: Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.

156. Anjing kepada orang, raja kepada kita.
Maknanya: Buruk baik anak sendiri juga.

157. Anjing menyalak bukit, takkan runtuh.
Maknanya: Orang baik yang dicela oleh orang jahat, tentu tidak akan binasa kebaikannya.

158. Anjing menyalak di ekor (dipanjat) gajah.
Maknanya: Orang lemah (hina) mencuba hendak melawan orang yang berkuasa, tentulah perbuatannya itu sia-sia saja.

159. Anjing terpanggang ekor.
Maknanya: Mendapat kesusahan besar sehingga tak tentu tingkah lakunya, meminta pertolongan ke sana ke mari.

160. Anjing tiada bercawat ekor.
Maknanya: Sesuatu yang hina dan tiada berguna.

161. Anjur surut bak bertanam.
Maknanya: Tipu muslimat dalam melakukan pekerjaan.

162. Antah berkumpul sama antah, beras bersama beras.
Maknanya: Setiap orang selalu mencari orang yang sama derajat (darjat, pangkat ataupun kedudukan) dengannya.

163. Antan patah, lesung hilang.
Maknanya: Kemalangan yang bertimpa-timpa.

164. Antara dua tengah tiga.
Maknanya: Sakit hampir mati.

165. Apa boleh buat, nasi sedap menjadi tawar.
Maknanya: Susah hati dapat mengubah perangai seseorang.

166. Apa boleh buat, sakit menimpa sesal terlambat.
Maknanya: Sudah terlanjur, tak dapat diubah lagi.

167. Apa digaduhkan: pengayuh sama di tangan, perahu sama di air.
Maknanya: Tidak takut menghadapi lawan apabila sama-sama mempunyai kebolehan.

168. Apa guna bunga ditanam, jika tidak diberi kumbang menyerinya.
Maknanya: Apa guna anak perempuan, jika tidak diberi bersuami.

169. Apa gunanya bulan terang di dalam hutan, jikalau di dalam negeri betapa baiknya.
Maknanya: Tidak berfaedah menunjukkan kepandaian kepada orang-orang yang tidak dapat menghargainya.

170. Apa gunanya merak mengigal di hutan (mengigal - menegakkan dan membentangkan bulu ekor).
Maknanya: Tidak berfaedah menunjukkan kepandaian kepada orang-orang yang tidak dapat menghargainya.

171. Apa kepada kukur, nyiur juga yang binasa.
Maknanya: Memang mudah menyuruh berbuat begini begitu, tetapi yang sukar ialah yang mengerjakannya.

172. Apa kurang pada belida, sisik ada tulang pun ada. Maknanya: Cukup mempunyai segala yang diperlukan.

173. Apa payahnya menawakkan (menaupkan) bibir atas bawah.(menawakkan - menggerakkan).
Maknanya: Mudah menyebut, tetapi susah mengerjakannya.

174. Apa payahnya menggoyangkan lidah saja.
Maknanya: Banyak janji tetapi tidak ditepati.

175. Apa peduli pada kukuran, nyiur juga yang akan habis.
Maknanya: Memang mudah menyuruh berbuat begini begitu, tetapi yang sukar ialah yang mengerjakannya.

176. Apa sakit berbini janda, anak tiri boleh disuruh.
Maknanya: Alasan yang berlawanan dengan maksud yang sebenarnya.

177. Apa tampangnya, itulah tumbuhnya (tampang - benih).
Maknanya: Hasil sesuatu pekerjaan itu menurut ukuran usaha yang kita kerjakan.

178. Apabila orang miskin menghendaki wang, dia mendapat anak; apabila orang kaya menghendaki anak, dia mendapat wang.
Maknanya: Hasil yang berlawanan dengan keinginan; lain yang dihajati lain yang diperoleh.

179. Apabila tumbuh-nyiur itu patah, tumbuh-nyiur juga akan gantinya (tumbuh-nyiur - tunas bibit kelapa).
Maknanya: Ganti yang hilang mestilah yang sama pula.

180. Apakah gunanya kemenyan disimpan sebesar tungku, kalau tidak dibakar.
Maknanya: Kepandaian hendaklah diajarkan kepada orang lain, kerana kalau disimpan ia akan hilang begitu saja.

181. Apakah gunanya memasang dian (pelita) di tengah hari, jika malam alangkah baiknya.
Maknanya: Perkara yang sudah diketahui orang tak perlu diterangkan lagi.

182. Apalagi sawa, ia berkehendakkan ayamlah!
Maknanya: Orang yang suka mencari barang-barang yang digemarinya.

183. Apalagilah, pemakan berulam bertemu pucuk!
Maknanya: Orang yang bertemu dengan barang kesukaannya.

184. Api dengan air, alangkah bezanya.
Maknanya: Jahat dengan baik amat jauh bezanya.

185. Api itu, tatkala kecil menjadi kawan, apabila besar menjadi lawan.
Maknanya: Kejahatan yang sedikit itu hendaklah lekas diperbaiki supaya jangan sampai melarat.

186. Api kecil baik dipadam.
Maknanya: Basmilah kejahatan itu semasa ia kecil lagi.

187. Api makan sekam.
Maknanya: Perbuatan jahat atau rindu dendam yang tersembunyi.

188. Api nan tak kunjung padam (kunjung - segera;lekas).
Maknanya: Semangat yang hidup selama-lamanya.

189. Api padam puntung berasap (puntung - sisa kayu api yang dibakar).
Maknanya: Perkara yang telah putus, tetapi ditimbulkan kembali.

190. Api padam puntung hanyut, kami tidak di situ lagi.
Maknanya: Cerita yang sudah tamat; benar-benar sudah selesai.

191. Apung di tengah lautan; dipukul ombak, sekejap ke tengah sekejap ke tepi.
Maknanya: Orang dagang yang melarat hidupnya.

192. Ara tak bergetah.
Maknanya: Suatu perkara yang mustahil.

193. Arang di dahi (di kening, di muka).
Maknanya: Mendapat malu.

194. Arang habis besi binasa.
Maknanya: Pekerjaan yang sia-sia.

195. Arang habis binasa, tukang hembus penat saja.
Maknanya: Pekerjaan yang sia-sia.

196. Arang itu, jika dibasuh dengan air mawar sekalipun, tiada akan putih.
Maknanya: Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.

197. Asal ada kecil pun pada.
Maknanya: Kalau tak ada banyak, sedikit pun cukup juga.

198. Asal ayam hendak ke lesung, asal itik hendak ke pelimbahan.
Maknanya: Tabiat orang tak mungkin berubah.

199. Asal ayam pulang ke lumbung, asal itik pulang ke pelimbahan.
Maknanya: Tabiat orang tak mungkin berubah.

200. Asal berinsang ikanlah.
Maknanya: Tidak memilih (pekerjaan, makanan, perempuan dan sebagainya).

201. Asal berisi tembolok senang hati.
Maknanya:Sudah cukup makan dan pakai maka senanglah hati.

202. Asal besi pengapak kayu, asal emas menjadi penduk (penduk - salut sarung keris).
Maknanya: Darjat seseorang dapat ditentukan pada sifat perangainya.

203. Asal ditugal, adalah benih (tugal - melubangi tanah kebun dengan kayu akan tempat menanam benih).
Maknanya: Sesuatu usaha tentu ada hasilnya.

204. Asal sabut terapung, asal besi tenggelam.
Maknanya: Untung-untungan; kalau bernasib baik tentu selamat, kalau bernasib malang tentu jatuh.

205. Asal selamat ke seberang, biar bergantung di ekor buaya. Maknanya: Sangat perlu akan pertolongan, betapa pun jua pertolongan itu akan diterimanya.

206. Asal terbang burunglah, asal berinsang ikanlah. Maknanya: Tidak memilih (pekerjaan, makanan, perempuan dan sebagainya).

207. Asam di darat ikan di laut, bertemu dalam belanga juga.
Maknanya: Perempuan dan lelaki, kalau sudah jodoh, bertemu juga akhirnya.

208. Asyik memangku tangan, mati dalam angan-angan.
Maknanya: Tak akan tercapai maksudnya, kalau tak mahu berusaha.

209. Atap rumbia perabung upih, rumah besar berdinding papan.
Maknanya: Barang yang baik dicampurkan dengan barang yang buruk.

210. Aur ditanam betung tumbuh.
Maknanya: Mendapat laba banyak dengan modal yang sedikit.

211. Aus telunjuk mencolek garam.
Maknanya: Hidup dalam kemiskinan.

212. Awak alah gelanggang usai.(usai - lengang).
Maknanya: Ditimpa kemalangan yang tak dapat diatasi lagi.

213. Awak hendak hilir, ia telah hanyut.
Maknanya: Cita-cita yang telah didahului oleh orang lain.

214. Awak kecil makan hendak banyak, sayap singkat terbang hendak tinggi.
Maknanya: Mengangan-angankan sesuatu yang tidak sepadan dengan kesanggupan diri sendiri.

215. Awak kurus daging menimbun.
Maknanya: Orang kaya yang berpura-pura miskin.

216. Awak sakit daging menimbun.
Maknanya: Besar belanja daripada pendapatan.

217. Awak tikus, hendak menampar kepala kucing.
Maknanya: Melakukan sesuatu yang mustahil.

218. Awak yang celaka, orang yang diumpat.
Maknanya: Dirinya sendiri yang bersalah (kerana kemalangan, kecelakaan, kekalahan dan sebagainya), orang lain pula yang disesalkan.

219. Awak yang payah membelah ruyung, orang lain yang beroleh sagunya (ruyung - batang pohon enau).
Maknanya: Orang lain yang bersusah payah, orang lain pula yang mendapat faedahnya.

220. Awal dibuat, akhir diingat.
Maknanya: Sebelum membuat sesuatu pekerjaan hendaklah difikirkan masak-masak supaya selamat pekerjaan itu.

221. Awal dikenal akhir tidak, alamat badan akan rosak.
Maknanya: Orang yang tak berhati-hati lakukan pekerjaannya (yang baiknya saja yang diingat) tentulah akhirnya akan menyesal dan kecewa.

222. Ayam baru belajar berkokok.
Maknanya: Baru cukup umur.

223. Ayam berinduk, sirih berjunjung.
Maknanya: Tiap-tiap yang lemah harus mendapat bantuan dan perlindungan.

224. Ayam berlaga sekandang.
Maknanya: Berkelahi dengan orang serumah.

225. Ayam beroga itu, kalau diberi makan di pinggan emas sekalipun ke hutan juga perginya (ayam beroga - ayam hutan).
Maknanya: Bagaimana senangnya di negeri asing, ingat juga kita akan negeri sendiri.

226. Ayam bertelur di atas padi, mati kelaparan.
Maknanya: Sangat menderita kesusahan meskipun bergaji besar (beristerikan atau bersuamikan orang kaya) atau hidup miskin di negara yang kaya dan makmur.

227. Ayam bertelur di atas padi.
Maknanya: Hidup senang dan mewah.

228. Ayam dapat, musang dapat.
Maknanya: Pencuri tertangkap, barang-barangnya pun tidak hilang.

229. Ayam ditambat disambar elang, padi di tangan tumbuh lalang.
Maknanya: Malang sekali; nasib yang buruk.

230. Ayam hitam terbang malam bertali ijuk, bertambang tanduk, hinggap di kebun rimbun.
Maknanya: Kejahatan (perkara dan sebagainya) yang dilakukan di dalam sulit, sukar diketahui.

231. Ayam itik, raja pada tempatnya.
Maknanya: Tiap-tiap orang ahli dalam urusannya masing-masing.

232. Ayam menang, kampuh (kampung) tergadai. (kampuh - kain selimut yang dirangkap daripada tiga helai kain)
Maknanya: Keberuntungan yang tidak ada faedahnya.

233. Ayam pulang ke pautan.
Maknanya: Sudah pada tempatnya.

234. Ayam putih terbang siang, hinggap di halaman, terang kepada mata orang banyak.
Maknanya: Perkara yang nyata mudah ketahuan.

235. Ayam seekor bertambang dua.
Maknanya: Gadis seorang, dua bujang yang ingin.

236. Ayam sudah patah, kalau-kalau dapat menikam. Maknanya: Orang yang telah jatuh melarat itu mungkin akan berubah nasibnya.

237. Ayam tak patuk, itik tak sudu.
Maknanya: Keadaan orang yang hina dalam masyarakat.

238. Ayam terlepas, tangan bau tahi.
Maknanya: Kejahatan yang tidak mendatangkan hasil, melainkan malu semata-mata.

239. Ayam terlepas, tangan tercirit.
Maknanya: Kejahatan yang tidak mendatangkan hasil, melainkan malu semata-mata.

240. Ayam tidur senang di dalam reban, musang yang susah beredar sekeliling.
Maknanya: Tidak senang melihat kebahagiaan orang.

241. Ayam yang tangkas di gelanggang.
Maknanya: Orang yang pandai berkata-kata di dalam majlis.


Readmore

Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "B"


Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "B"


01. Babi merasa gulai.
Maknanya: Menyimpan rahsia yang telah diketahui umum.

02. Bacang dibungkus tentu baunya keluar juga.
Maknanya: Kiasan kepada orang yang membuang anaknya sendiri kerana takut malu dan sebagainya.

03. Badak makan anak.
Maknanya: Bagaimana sekalipun orang berkasih-kasihan, tetapi dengan mudah juga dapat diceraikan, kerana orang lebih mengutamakan harta-benda.

04. Badan bersaudara; emas perak tiada bersaudara; kasih saudara sama ada, kasih bapa menokok harta yang ada, kasih ibu sama rata; kasih sahabat sama binasa.
Maknanya: Walaupun orang-orang lemah itu di bawah kuasa orang kuat, tetapi hatinya bebas lepas.

05. Badan boleh dimiliki, hati tiada boleh dimiliki.
Maknanya: Sudah sehidup semati.

06. Badan sudah dua senyawa.
Maknanya: Tidak tetap pendirian; selalu berubah-ubah.

07. Bagai air daun talas (keladi).
Maknanya: Berusaha untuk mencari ilmu dengan tidak berhenti-henti; usaha dengan tidak mengenal jerih payah.

08. Bagai air mencari jenisnya.
Maknanya: Memberi nasihat dan ajaran yang sia-sia.

09. Bagai air itik ke batu.
Maknanya: Lemah dan lesu tanpa penyakit.

10. Bagai anak dara mabuk andam (andam - anak rambut di dahi).
Maknanya: Anak perempuan yang tiada malu, pemalas dan pengotor.

11. Bagai anak dara sudah berlaki.
Maknanya: Banyak sekali.

12. Bagai anak nangu (nangui - Babi kecil yang banyak anaknya).
Maknanya: Berbaring dan bermalas-malas saja di rumah orang lain.

13. Bagai anak sepat ketohoran.
Maknanya: Kurus sekali.

14. Bagai anjing beranak enam.
Maknanya: Orang yang sangat dibenci oleh masyarakat.

15. Bagai anjing buruk kepala.
Maknanya: Sangat gembira; sangat sombong.

16. Bagai anjing melintang denai (denai - jejak binatang besar di hutan).
Maknanya: Mendapat kesusahan besar sehingga tak tentu tingkah lakunya, meminta pertolongan ke sana ke mari. (Peribahasa lain yang sama makna: Anjing terpanggang ekor).

17. Bagai anjing tersepit di pagar.
Maknanya: Mudah menimbulkan sesuatu hal yang tak baik kalau diperdekatkan.

18. Bagai api dengan rabuk.
Maknanya: Tidak terus berjalan ke tempat tujuan, tetapi singgah-singgah di jalan.

19. Bagai ara hanyut.
Maknanya: Satu sama lain bertolong-tolongan.

20. Bagai aur bergantung ke tebing, bagai tebing bergantung ke aur.
Maknanya: Saling membantu

21. Bagai aur di atas bukit.
Maknanya: Orang yang tak pernah masuk majlis.

22. Bagai ayam dibawa ke lampok (lampok - onggok padi sesudah disabit; limpap).
Maknanya: Pucat dan kuning kerana menghidap penyakit; sangat gelisah kelakuannya.

23. Bagai ayam dimakan (kena) tungau.
Maknanya: Mati tanpa sakit.

24. Bagai ayam disambar helang.
Maknanya: Tidak dapat berbuat apa-apa; bingung.

25. Bagai ayam lepas bertaji.
Maknanya: Seseorang mendapat kesusahan dan orang lain serba salah untuk menolongnya.

26. Bagai ayam mabuk tahi.
Maknanya: Pucat lesi dan tidak berdaya sebab sakit dan kurang darah.

27. Bagai ayam mengarang telur (mengarang telur - hampir bertelur).
Maknanya: Peri keelokan, merah muka seseorang.

28. Bagai ayam mengeram telur.
Maknanya: Peri keelokan, merah muka seseorang.

29. Bagai ayam naik ke surau.
Maknanya: Bertamu ke rumah orang yang tidak memberi jamu apa-apa.

30. Bagai ayam si tombong, kokok berderai-derai, ekor bergelumang tahi (tombong - sombong).
Maknanya: Seseorang yang cakapnya tinggi tetapi keluarganya dalam kemelaratan.

31. Bagai ayam yang terkecundang (kecundang - kalah).
Maknanya: Sangat ketakutan.

32. Bagai bajak wangkang makan diangkat (bajak wangkang - tenggala yang selalu mesti diangkat-angkat waktu menggunakannya. bajak - perompak; wangkang - perahu besar).
Maknanya: Orang yang gemar dipuji.

33. Bagai balak terendam.
Maknanya: Orang gemuk yang malas bergerak.

34. Bagai belacan dikerat dua: yang pergi busuk, yang tinggal hanyir.
Maknanya: Perkara yang mendatangkan aib kepada kedua-dua belah pihak.

35. Bagai beliung dengan asahan.
Maknanya: Tidak pernah berpisah.

36. Bagai belut digetir (diketil) ekor.(digetir - dicubit).
Maknanya: Cepat sekali.

37. Bagai belut diregang.
Maknanya: Tinggi dan kurus.

38. Bagai berkain tiga hasta.
Maknanya: Serba tak cukup (miskin).

39. Bagai bersahabat dengan ular bisa.
Maknanya: Berkawan dengan orang yang jahat.

40. Bagai berseru di padang pasir.
Maknanya: Seruan yang tidak diendahkan orang.

41. Bagai bersumur di tepi rawa.
Maknanya: Orang yang selalu cemburu.

42. Bagai bertanak di kuali.
Maknanya: Terlalu murah hati sehingga binasa kerananya.

43. Bagai bertandang ke rumah janda.
Maknanya: Bertamu ke rumah orang yang tidak memberi jamu apa-apa.

44. Bagai bertemu (makan) buah si malakamo; dimakan mati bapa, tidak dimakan mati ibu. (malakamo adalah sejenis buah yang sama ada dimakan atau tidak akan mendatangkan kesusahan (sebagai perumpamaan sahaja).
Maknanya: Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.

45. Bagai bertepuk sebelah tangan.
Maknanya: Cinta kasih yang tidak berbalas.

46. Bagai beruk kena ipuh (ipuh - racun).
Maknanya: Menggeliang-geliut (kerana kesakitan dan sebagainya).

47. Bagai berumah di tepi tebing.
Maknanya: Selalu dalam kekhuatiran.

48. Bagai besi dengan penempa.
Maknanya: Orang lemah di bawah kuasa orang kuat.

49. Bagai biawak mengulangi bangkai.
Maknanya: Lelaki yang suka pergi ke tempat perempuan jahat.

50. Bagai buah keras di dalam sekul (buah keras - kemiri; sekul - mangkuk yang diperbuat daripada tempurung kelapa).
Maknanya: Bercakap dalam keadaan tergopoh-gopoh.

51. Bagai budak menyapu hingus.
Maknanya: Beroleh malu dalam sesuatu majlis.

52. Bagai bulan empat belas.
Maknanya: Kecantikan wajah seseorang wanita.

53. Bagai bulan penuh mengambang di kaki awan.
Maknanya: Perempuan cantik yang keluar dari rumahnya kerana hendak berjalan.

54. Bagai buntal kembung.
Maknanya: Bodoh dan sombong.

55. Bagai bunyi cempedak jatuh.
Maknanya: Bunyi jatuh yang kuat.

56. Bagai bunyi orang dikoyak harimau.
Maknanya: Berteriak-teriak atau melolong dengan kuat.

57. Bagai bunyi perempuan di air (di air - di tempat mandi).
Maknanya: Ramai (riuh) sekali.

58. Bagai bunyi siamang kenyang.
Maknanya: Banyak cakapnya dan sebagainya kerana mendapat kesenangan.

59. Bagai cacing gila (cacing gila - cacing yang berputar-putar bila disentuh).
Maknanya: Perempuan yang suka berpergian, bertandang dan sebagainya.

60. Bagai cacing kena air panas.
Maknanya: Tidak tenang, selalu gelisah (kerana susah, malu dan sebagainya).

61. Bagai cembul dapat tutupnya.
Maknanya: Sesuai benar.

62. Bagai dakwat dengan kertas.
Maknanya: Tak pernah bercerai; sangat cocok.

63. Bagai dekan di bawah pangkal buluh (dekan - ulat yang makan buluh).
Maknanya: Pandai menyembunyikan rahsia.

64. Bagai denai gajah lalu.
Maknanya: Pekerjaan atau kejadian yang payah benar hendak disembunyikan.

65. Bagai dihiris dengan sembilu.
Maknanya: Pedih sekali rasa hatinya.

66. Bagai diikat dengan sehasta tali.
Maknanya: Dalam keadaan yang sangat terbatas.

67. Bagai dirahap kain basah (rahap - bungkus).
Maknanya: Dingin sejuk sekujur badan kerana mendengar khabar atau melihat kejadian yang sedih dan ngeri.

68. Bagai ditembak putus tunggal (putus tunggal - petir yang sangat keras bunyinya).
Maknanya: Dialahkan oleh orang yang bodoh.

69. Bagai diurap dengan daun katang-katang (katang-katang - Sejenis tumbuh-tumbuhan di tepi laut, getahnya sangat menggatalkan).
Maknanya: Sangat marah.

70. Bagai dulang dengan tudung saji.
Maknanya: Sesuai benar.

71. Bagai duri dalam daging.
Maknanya: Sesuatu hal yang selalu terasa tidak menyenangkan hati.

72. Bagai emak mandul baru beranak.
Maknanya: Girang yang amat sangat; kasih sayang yang terlalu amat.

73. Bagai empedu lekat di hati.
Maknanya: Sangat karib (tentang orang bersahabat atau orang berkasih-kasihan).

74. Bagai enau di dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing.
Maknanya: Tiada semuafakat dalam sesuatu perbincangan.

75. Bagai gadis jolong menumbuk.
Maknanya: Rajin dan bersungguh-sungguh.

76. Bagai gagak menggonggong telur.
Maknanya: Perempuan hodoh berpakaian bagus.

77. Bagai galah di tengah arus.
Maknanya: Menggigil keras; selalu berkeluh-kesah.

78. Bagai galah dijual (galah - tombak atau lembing).
Maknanya: Terlalu miskin; kalah judi.

79. Bagai gelegar buluh (gelegar - bunyi bergemuruh).
Maknanya: Bercakap besar.

80. Bagai gelombang dua belas.
Maknanya: Kehebatan langkah seseorang pendekar.

81. Bagai geluk tinggal di air (geluk - timba daripada tempurung kelapa).
Maknanya: Orang yang melarat hanya mengharap bantuan orang.

82. Bagai gembala diberi keris.
Maknanya: Pemberian yang tidak berfaedah.

83. Bagai getah dibawa ke semak.
Maknanya: Perkara yang semakin kusut dan susah menyelesaikannya.

84. Bagai gulai lengkitan (lengkitang - siput).
Maknanya: Hendak menghilangkan kejahatan dirinya, tetapi kebaikan yang ada padanya pun lenyap pula.

85. Bagai hantu makan dedak.
Maknanya: Bersungut-sungut dengan tiada tentu sebabnya.

86. Bagai harimau beranak muda.
Maknanya: Orang perempuan yang terlalu bengis.

87. Bagai haruan di dalam tuar (tuar - lukah).
Maknanya: Tidak tetap keadaannya, kerana sakit atau susah.

88. Bagai ikan lampam di ulak jamban.
Maknanya: Anak-anak yang subur tubuhnya, lekas besar dan tinggi; orang-orang yang mengutip hasil daripada pekerjaan-pekerjaan maksiat.

89. Bagai ilak bercerai dengan benang (ilak - ukuran untuk menentukan lebar kain yang akan ditenun.
Maknanya: Bercerai untuk selama-lamanya.

90. Bagai inai dengan kuku.
Maknanya: Sangat karib (tentang orang bersahabat atau orang berkasih-kasihan).

91. Bagai itik pulang petang.
Maknanya: Berjalan lambat dan lamban (perempuan atau orang yang gemuk).

92. Bagai jawi belang puntung: didahulukan dia menyepak, dikemudiankan dia menanduk (belang puntung - merah kehitam-hitaman; jawi - lembu).
Maknanya: Orang bodoh yang tidak dapat diajak berunding.

93. Bagai jawi ditarik keluan (keluan = tali yang dicucukkan pada hidung (lembu dan kerbau).
Maknanya: Menurut dengan tidak membantah.

94. Bagai jawi makan, dimamah dulu baru ditelan.
Maknanya: Tiap-tiap perbuatan itu dirundingkan masak-masak sebelum dikerjakan.

95. Bagai jawi terkurung siang.
Maknanya: Sangat gelisah kerana tidak bebas.

96. Bagai jelongak kerbau rampung.
Maknanya: Orang bodoh yang sombong, tiada sedar dirinya dibodohi orang.

97. Bagai jempuk kesiangan hari.
Maknanya: Kebingungan; termenung-menung.

98. Bagai kacang direbus satu.
Maknanya: Melonjak-lonjak kegirangan kerana mendapat untung.

99. Bagai kacang direndang.
Maknanya: Bunyi suara yang tak putus-putus.

100. Bagai kain menunjukkan corak bangsanya.
Maknanya: Rupa dan gaya seseorang menunjukkan asal usulnya.


Readmore

Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "C"


Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "C"

01. Cacing hendak menjadi naga.
Maknanya: Orang kecil hendak menyama-nyamai orang besar-besar.

02. Cacing menelan naga.
Maknanya: Anak orang bangsawan diperisteri oleh orang kebanyakan; orang yang berkuasa dapat dialahkan oleh orang yang lemah.

03. Cacing menjadi ular naga.
Maknanya: Orang hina menjadi orang mulia.

04. Cakak sudah, silat teringat (cakak - kelahi).
Maknanya: Perkara sudah selesai, barulah terdengar keterangan atau sungutan.

05. Cakap berdegar-degar, tahi tersangkut di gelegar. Maknanya: Cakapnya saja yang besar tetapi tidak ada satu pun pekerjaan yang dilakukan olehnya.

06. Cakap berlauk-lauk makan dengan sambal lada. Maknanya: Cakapnya seperti orang kaya, padahal miskin.

07. Cakapan sejengkel dibawa sehasta.
Maknanya: Berlebih-lebihan daripada hal yang sebenarnya.

08. Calak-calak ganti asah, menanti tukang belum datang (calak-calak - lampas).
Maknanya: Dipakai untuk sementara waktu saja, sementara belum ada yang lebih baik; sekadar untuk mencukupi keperluan saja.

09. Campak baju nampak kurap seperti anak kacang hantu.
Maknanya: Orang-orang muda yang tiada memelihara kehormatan dirinya ataupun kehormatan orang lain di jalan-jalan raya.

10. Campak baju nampak kurap.
Maknanya: Mendedahkan keburukan diri sendiri.

11. Campak bunga dibalas dengan campak tahi.
Maknanya: Kebaikan dibalas dengan kejahatan.

12. Canggung seperti antan dicungkilkan duri (gigi). Maknanya: Melakukan sesuatu pekerjaan yang bukan sepatutnya.

13. Cari umbut kena buku.
Maknanya: Mencari yang baik, mendapat yang buruk.

14. Carik-carik bulu ayam, lama-lama bercantum juga. Maknanya: Perselisihan sesama keluarga itu akhirnya akan berbaik kembali.

15. Cekarau besar liang (cekarau - sejenis tumbuhan di air yang besar lubang batangnya).
Maknanya: Besar bualannya dan suka membuka rahsia orang.

16. Cekel berhabis, lapuk berteduh (cekel - kikir, pelit).
Maknanya: Biarpun kikir namun harta akan habis juga akhirnya atau hilang percuma saja.

17. Cekur jerangau ada lagi di ubun-ubun.
Maknanya: Belum dewasa sudah hendak melawan orang tua; belum ada pengalaman.

18. Cekur jerangau belum habis lagi.
Maknanya: Belum dewasa sudah hendak melawan orang tua; belum ada pengalaman.

19. Celaka ayam, padi masak makan ke hutan.
Maknanya: Nasib yang malang.

20. Celaka tiga belas.
Maknanya: Malang sekali.

21. Cembul dengan tutupnya.
Maknanya: Sesuai benar.

22. Cemperling nak jadi bayu (bayu - sejenis burung asmara dalam dongengan).
Maknanya: Orang kecil hendak menyama-nyamai orang besar-besar.

23. Cencang air tidak putus, pancung abu tak berbekas.
Maknanya: Perselisihan sesama keluarga itu akhirnya akan berbaik kembali.

24. Cencang dua segeragai (geragai - pengait untuk menangkap buaya).
Maknanya: Sekali jalan, dua tiga pekerjaan selesai.

25. Cencang putus, biang tembuk.
Maknanya: Putusan yang mengikat.

26. Cencang terdadik jadi ukir (terdadik - tersesat).
Maknanya: Kesalahan yang tiada disengajakan, tetapi mendatangkan kebaikan.

27. Cencaru makan petang.
Maknanya: Pekerjaan yang lambat mendatangkan hasil yang baik.

28. Cengkeling bagai ular dipukul (cengkeling - berbelit-belit).
Maknanya: Geliang-geliut kerana kesakitan.

29. Cepat kaki ringan tangan.
Maknanya: Rajin dan giat.

30. Cepat tangan terjembakan, cepat kaki terlangkahkan, cepat mulut terkatakan.
Maknanya: Jika kurang fikir atau kurang hemat dalam sesuatu perbuatan, maka tangan dan kaki serta mulut dapat menimbulkan kesusahan.

31. Cerdik bagai ekor kerbau.
Maknanya: Melakukan sesuatu pekerjaan yang merugikan diri sendiri.

32. Cerdik elang, bingung sikikih; lamun murai terkecoh juga (sikikih - sejenis enggang, kecil sedikit).
Maknanya:Biarpun cerdik atau bodoh orang besar-besar itu tetapi orang kecil-kecil juga yang selalu menanggung rugi.

33. Cerdik perempuan meleburkan, saudagar muda menghutangkan.
Maknanya: Menuruti orang yang belum panjang fikirannya itu acap kali mendatangkan kesusahan.

34. Cermat masa banyak, jimat masa sedikit.
Maknanya: Selalu berhati-hati dalam membelanjakan (menggunakan) sesuatu.

35. Cik puan melangkah ular tak lepas.
Maknanya: Gerak-geri perempuan yang lemah lembut.

36. Cincin emas takkan tampan bermata kaca.
Maknanya: Gadis yang elok dan hartawan takkan sejodoh dengan orang yang miskin dan hodoh.

37. Cium tapak tangan, berbaukah atau tidak?
Maknanya: Lihat diri sendiri terlebih dulu sebelum mencela orang lain.

38. Condong ditumpil, lemah dianduh (ditumpil - ditunjang).
Maknanya: Memberi pertolongan (kewangan, fikiran dan sebagainya) kepada orang-orang yang di dalam kesusahan.

39. Condong puar ke uratnya, condong manusia kepada bangsanya (puar - tumbuhan-tumbuhan hutan).
Maknanya: Tiap-tiap orang lebih suka kepada keluarganya sendiri daripada kepada orang lain.

40. Condong yang akan menimpa.
Maknanya: Perbuatan yang sangat membahayakan.

41. Condong yang akan menongkat, rebah yang akan menegakkan.
Maknanya: Pemimpin yang akan membantu atau menjaga rakyatnya jika ada kesusahan yang menimpa rakyatnya itu.

42. Corak kain mengikut kehendak penenunnya.
Maknanya: Undang-undang sesebuah negeri itu menurut keadaan pemerintahnya; pengetahuan murid menurut ajaran gurunya.

43. Cuba-cuba menanam mumbang, jika tumbuhan sunting (suri, turus) negeri (mumbang = putik kelapa).
Maknanya: Kerjakan terus walaupun kurang berharga, barangkali ada juga hasilnya kelak.

44. Cubit paha kanan, paha kiri pun merasa juga.
Maknanya: Jika seseorang itu menyusahkan kaum keluarganya sendiri maka ia pun akan merasa susah juga.

45. Cubit paha sendiri dulu, baru cubit paha orang lain. Maknanya: Pandang pada diri sendiri dulu, sebelum memandang pada orang lain.

46. Cupak berkeesaan.
Maknanya: Keadilan hukum baru bisa (boleh) diperoleh apabila sudah cukup keterangan atau pemeriksaannya.

47. Cupak sudah tertegak, suri sudah terentang (suri - pemidangan pada perkakas tenun).
Maknanya: Telah lama adat berdiri tentang tiap-tiap pekerjaan.

48. Cupak tegak yang diisi.
Maknanya: Aturan yang masih tetap berlakulah yang diturut.


Readmore

Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "D"


Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "D"

01. Dada manusia tidak dapat diselam.
Maknanya: Pengetahuan (fikiran) seseorang itu tidak dapat diduga.

02. Dagangan bersambut yang dijualnya (dagangan bersambut - barang amanah).
Maknanya: Cerita daripada orang lain yang diceritakannya.

03. Dahan pembaji batang.
Maknanya: Menggunakan harta benda tuannya.

04. Dalam berselam, dangkal berjingkat.
Maknanya: Penghasilan yang sedikit itu dipada-padakan.

05. Dalam dua tengah tiga.
Maknanya: Tidak jujur.

06. Dalam laut boleh diduga, dalam hati siapa tahu.
Maknanya: Pengetahuan (fikiran) seseorang itu tidak dapat diduga.

07. Dalam menunduk dia menyonggeng (songgeng; menyonggeng - tonggeng).
Maknanya: Lahirnya dia menerima dengan baik, tetapi hatinya sendiri membantah.

08. Dalam menyelam, cetek bertimba.
Maknanya: Penghasilan yang sedikit itu dipada-padakan.

09. Dalam rumah membuat rumah.
Maknanya: Mencari keuntungan atas biaya orang lain.

10. Dalam sudah keajukan, dangkal sudah keseberangan (ajuk - duga).
Maknanya: Telah diketahui benar-benar tujuan atau maksud seseorang.

11. Dapat dihitung (dibilang) dengan jari.
Maknanya: Sangat sedikit.

12. Dapat durian runtuh.
Maknanya: Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.

13. Dapat harta karun.
Maknanya: Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.

14. Dapat harta timbul.
Maknanya: Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.

15. Dapat kijang teruit.
Maknanya: Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.

16. Dapat tebu rebah.
Maknanya: Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.

17. Dapur tidak berasap.
Maknanya: Terlalu miskin.

18. Darah setampuk pinang.
Maknanya: Belum berpengalaman.

19. Dari ajung turun ke sampan.
Maknanya: Diturunkan pangkat.

20. Dari jauh diangkat telunjuk, kalau dekat diangkat mata.
Maknanya: Umpat dan caci kerana kelakuan yang tidak senonoh.

21. Dari lecah, lari ke duri.
Maknanya: Menghindarkan diri daripada kesukaran yang kecil, jatuh dalam kesukaran yang lebih besar.

22. Dari semak ke belukar.
Maknanya: Menceraikan isteri yang jahat, kemudian kahwin dengan perempuan yang lebih jahat lagi; meninggalkan sesuatu yang buruk, mendapat yang buruk pula.

23. Dari telaga yang jernih, tak akan mengalir air yang keruh.
Maknanya: Daripada sifat yang mulia, tak akan lahir budi bahasa yang kasar.

24. Dari telaga yang keruh, tak akan mengalir air yang jernih.
Maknanya: Daripada tabiat yang jahat tak akan lahir budi bahasa yang baik.

25. Daripada cempedak baiklah nangka, daripada tidak baiklah ada.
Maknanya: Sedikit pun cukuplah daripada tiada langsung.

26. Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati bergalang tanah.
Maknanya: Lebih baik mati daripada menanggung malu.

27. Daripada hidup bergelumang tahi, baik mati bertimbun bunga.
Maknanya: Lebih baik mati daripada menanggung malu.

28. Daripada segenggam jadi segantang.
Maknanya: Bernasib baik.

29. Datang nampak muka, pergi nampak belakang.
Maknanya: Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula; orang yang datang atau pergi hendaklah memberitahu.

30. Datang seperti ribut, pergi seperti semut.
Maknanya: Tentang penyakit.

31. Datang tak berjemput, pulang tak berhantar.
Maknanya: Tetamu yang tidak penting.

32. Datang tampak muka, pulang tampak punggung. Maknanya: Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula; orang yang datang atau pergi hendaklah memberitahu.

33. Datang tiada dijemput, dihalau dia berpaut, salah hemat kita diangkut.
Maknanya: Tentang penyakit.

34. Datar bak lantai papan, licin bak dinding cermin. Maknanya: Keputusan yang sangat adil.

35. Daun dapat dilayangkan, getah jatuh ke perdu juga. Maknanya: Tiada sama kasih kepada anak sendiri dengan kasih kepada anak saudara.

36. Daun keladi dimandikan.
Maknanya: Memberi nasihat dan ajaran yang sia-sia.

37. Daun 'lah melayang, buah jatuh ke perdu juga.
Maknanya: Tiada sama kasih kepada anak sendiri dengan kasih kepada anak saudara.

38. Daun mengenalkan pohonnya.
Maknanya: Daripada kelakuan (perkataan) dapat dikenal asal usulnya.

39. Daun nipah dikatakan daun labu.
Maknanya: Kalau segan bertanya tentulah timbul salah faham.

40. Daunnya jatuh melayang, buahnya jatuh ke pangkal juga.
Maknanya: Orang yang tiada berbudi pekerti jika banyak pengetahuannya sekalipun, akan ketahuan juga; yang berguna tinggal yang tak berguna terbuang.

41. Degar-degar merapati (degar-degar - bunyi kayu dipukul).
Maknanya: Perselisihan antara kaum keluarga atau suami isteri yang makin merapatkan perhubungan.

42. Dek sukar berkampuh ijuk, nan adat diturut juga (berkampuh ijuk - bertudung atau berselimut ijuk).
Maknanya: Adat yang tak boleh ditinggalkan, walaupun hidup melarat.

43. Dekat dapat ditunjal, jauh dapat ditunjuk.
Maknanya: Perkataan atau pengakuan yang dapat dibuktikan kebenarannya.

44. Dekat tak tercapai, jauh tak berantara.
Maknanya: Sesuatu yang kita inginkan tetapi tiada berdaya untuk mengambilnya.

45. Dendang menggonggong telur.
Maknanya: Perempuan hodoh berpakaian bagus.

46. Dengan kartu terbuka.
Maknanya: Dengan terus terang.

47. Dengar cakap enggang, makan buah beluluk; dengar cakap orang, terjun masuk lubuk.
Maknanya: Sesuatu pekerjaan itu hendaklah difikirkan sendiri masak-masak sebelum dikerjakan dan jangan sekali-kali mendengar cakap orang.

48. Dengarkan cerita burung, anak dipangku dilepaskan.
Maknanya: Kerana mendengarkan manis tutur kata orang, pekerjaan sendiri disia-siakan.

49. Deras datang dalam kena.
Maknanya: Pekerjaan yang terburu-buru itu kelak akan mendatangkan kerugian.

50. Deras seperti anak panah.
Maknanya: Terlalu cepat.

51. Destar habis, kopiah luluh.
Maknanya: Menderita kemalangan terus-menerus.

52. Di bawah ketiak orang.
Maknanya: Di bawah kekuasaan orang.

53. Di bawah lancung nan tiris (di bawah lancung - di bawah barang yang palsu).
Maknanya: Seseorang yang mendapat kehinaan, merasa dirinya rendah sekali.

54. Di bawah lantai nan tiris.
Maknanya: Seseorang yang mendapat kehinaan, merasa dirinya rendah sekali.

55. Di belakang ia menendang kita, bila di depan ia mengeting kita, jika di tengah ia berpusing ligat pula (mengeting - memotong urat keting).
Maknanya: Menghadapi seseorang yang kita kasihi, yang menyebabkan kita menjadi serba-salah.

56. Di hulu keruh di hilir pun tentu keruh juga.
Maknanya: Kalau asalnya tidak baik maka kesudahannya pun tentu tidak baik juga.

57. Di laut angkatan, di darat kerapatan.
Maknanya: Kekuatan di laut bergantung kepada angkatan perang, kekuatan di darat bergantung kepada persatuan.

58. Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu.
Maknanya: Lahirnya baik, batinnya jahat.

59. Di luar berkilat di dalam berongga.
Maknanya: Lahirnya baik, batinnya jahat.

60. Di luar merah di dalam pahit.
Maknanya: Lahirnya baik, batinnya jahat.

61. Di lurah air yang besar, di bukit orang yang hanyut. Maknanya: Orang yang tiada bersalah menerima hukuman.

62. Di lurah maka hendak angin, di bukit maka hendak air.
Maknanya: Berkehendakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

63. Di mana api padam, di situlah (di sanalah) puntung tercampak; di mana periuk pecah, di situlah tembikar tinggal.
Maknanya: Di mana mati di situlah dikuburkan.

64. Di mana batang terguling, di situ cendawan tumbuh.
Maknanya: Di mana timbul perkara di situlah diselesaikan.

65. Di mana buah masak, di situ burung banyak tampil. Maknanya: Di mana banyak kesenangan, di situ pula banyak orang datang.

66. Di mana bumi (tanah) dipijak, di sana (di situ) langit dijunjung.
Maknanya: Hendaklah menurut adat dan aturan tempat yang kita diami.

67. Di mana bunga kembang, di situ kumbang banyak. Maknanya: Di mana ada gadis, di situ ada anak-anak muda.

68. Di mana kapak jatuh, di situ baji makan.
Maknanya: Di mana timbul perkara di situlah diselesaikan.

69. Di mana kayu bengkok, di sanalah musang meniti. Maknanya: Tempat yang tidak dijaga baik-baik, di situlah pencuri datang; siapa lengah akan mendapat bencana; orang yang bodoh mudah kena tipu.

70. Di mana kelintung berbunyi, di situ kerbau tinggal diam (kelintung (kelentong) - genta kayu, alat bunyi-bunyian (spt gendang kecil) yg digunakan oleh penjaja).
Maknanya: Di mana perintah yang baik, di situ rakyat hidup rukun dan damai; negeri yang aman, ramai penduduknya.

71. Di mana lalang habis, di situ api padam.
Maknanya: Di mana mati di situlah dikuburkan.

72. Di mana makan di situ berak.
Maknanya: Berbuat jahat di tempat mencari rezeki.

73. Di mana ranting dipatah, di situ air disauk.
Maknanya: Hendaklah menurut adat dan aturan tempat yang kita diami.

74. Di mana tembilang terentak, di situ cendawan tumbuh.
Maknanya: Di mana timbul perkara di situlah diselesaikan.

75. Di mana tempat kutu hendak makan kalau tidak di atas kepala.
Maknanya: Menghabiskan harta ibu bapa atau harta majikan.

76. Di mana tumbuh, di situ disiang.
Maknanya: Jika terjadi suatu perkara atau perselisihan, hendaklah diperiksa dan diselesaikan di situ juga.

77. Di manakah berteras kayu mahang.
Maknanya: Sesuatu yang mustahil tak usah diharapkan sangat.

78. Di mudik sebulakan, di hilir semuara (bulakan - pancaran air yang menjadi air tergenang).
Maknanya: Persatuan yang kukuh.

79. Di padang orang berlari-lari; di padang sendiri berjengket-jengket.
Maknanya: Orang yang hanya suka makan atau menerima hak orang lain, tetapi hak sendiri disimpan atau disembunyikan.

80. Di reban sendiri melegas, di reban orang meromok. (melegas (ligas) - berlari dengan mengangkat kaki kanan (seperti kuda); meromok = duduk meringkuk).
Maknanya: Berani di rumah sendiri, tetapi takut di tempat orang.

81. Di rumah sendiri dapur tak berabu, ke rumah teman pergi berpasak seribu.
Maknanya: Suka bertandang dan makan di rumah orang.

82. Di tempat tiada 'lang, kata belalang: akulah 'lang! Maknanya: Orang yang mengaku dirinya pandai atau mempunyai kelebihan, apabila diketahuinya di tempat itu tidak ada orang yang pandai.

83. Di waktu garuda alah oleh ular.
Maknanya: Kiasan kepada waktu yang telah lalu; zaman dulu kala.

84. Dialas bagai memengat (memengat - memasak pengat).
Maknanya: Berkata dengan cukup alasan.

85. Diam di laut, masin tidak; diam di bandar tak meniru.
Maknanya: Tidak menghiraukan segala perubahan terutama perubahan-perubahan yang baik.

86. Diam penggali berkarat.
Maknanya: Ilmu yang disimpan saja lama-kelamaan akan hilang.

87. Diam-diam lepu (lepu - ikan laut "lionfish").
Maknanya: Musuh yang pendiam jangan dipermudah-mudahkan.

88. Diam-diam ubi berisi, diam besi (penggali) berkarat. Maknanya: Pendiam tetapi berfikir atau banyak pengetahuan; bekerja dengan diam-diam.

89. Dian sebatang dinyalakan hujung pangkalnya, teraba-teraba sudahnya.
Maknanya: Orang yang membazir tak dapat tiada akan menghadapi kesusahan.

90. Dianjak layu, dibubut (dianggur) mati (dianjak - dipindahkan; dianggur - dikerat (cabang) untuk ditanam; dibubut - dicabut).
Maknanya: Keputusan yang tidak dapat diubah-ubah lagi.

91. Dianjung seperti payung, diambak seperti kasur (dianjung - diangkat ke atas).
Maknanya: Orang yang sangat dimuliakan.

92. Diapit tidak bersanggit, ditambat tidak bertali (sanggit - geser, gosok).
Maknanya: Perempuan yang tidak dipelihara oleh suaminya, tapi tidak pula diceraikannya; hidup di luar nikah.

93. Diasak (pindah) layu, dicabut mati.
Maknanya: Keputusan yang tidak dapat diubah-ubah lagi.

94. Dibakar tak hangus, direndam tak basah.
Maknanya: Sangat berkuasa; tak mudah dikalahkan.

95. Dibalik-balik bagai memanggang.
Maknanya: Difikirkan masak-masak.

96. Dibalun sebalun kuku, dibuka selebar alam (balun - gulung).
Maknanya: Alam rohani yang tak berbatas.

97. Dibenarkan duduk di serambi, hendak bermaharajalela di tengah rumah.
Maknanya: Diberi sedikit, lalu hendak minta banyak.

98. Diberi bahu, hendak kepala.
Maknanya: Perihal anak yang dimanjakan.

99. Diberi berkuku hendak mencengkam.
Maknanya: Diberi kekuasaan sedikit lalu hendak berbuat sesuka hati.

100. Diberi berpadang luas.
Maknanya: Diberi kebebasan sepenuh-penuhnya.

101. Diberi bertali panjang.
Maknanya: Diberi kebebasan sepenuh-penuhnya.

102. Diberi betis hendak paha.
Maknanya: Diberi sedikit, lalu hendak minta banyak.

103. Diberi sejengkal hendak sehasta, diberi sehasta hendak sedepa.
Maknanya: Diberi sedikit, lalu hendak minta banyak.

104. Dibilang genap, dipapar ganjil (dipapar - dibentang).
Maknanya: Lahirnya saja untung, tetapi yang sebenarnya rugi.

105. Dibuang yang keruh, diambil yang jernihnya.
Maknanya: Yang buruk dibuang, yang baik diambil (dipakai).

106 Dibuat kerana Allah, menjadi murka Allah.
Maknanya: Dilakukan dengan maksud baik, tetapi diterima orang dengan curiga.

107. Dicari cempedak di bawah kerambil (kerambil - kelapa).
Maknanya: Mencari tidak pada tempatnya.

108. Dicecah orang bagai garam.
Maknanya: Perempuan yang baru saja kahwin lalu bercerai.

109. Dicocok orang hidungnya.
Maknanya: Menurut saja.

110. Dicukur-cukur rambut, tumbuh juga semula.
Maknanya: Tabiat jahat lambat-laun akan berbalik semula.

111. Didenda dengan emas yang habis, dipancung dengan pedang yang hilang.
Maknanya: Didenda atau dihukum hanya dengan syaratnya saja kerana mencari perdamaian.

112. Didengar ada, dipakai tidak.
Maknanya: Nasihat yang sia-sia.

113. Didukung disangka orang sakit, kiranya orang kekenyangan.
Maknanya: Menolong orang tidak pada tempatnya.

114. Didului bak melanting babi (melanting - melempar).
Maknanya: Mendului membuat sesuatu pekerjaan itu kadang-kadang berhasil baik.

115. Dielakkan harimau, gajah tentu dengan londarnya; dielakkan untung, tak tentu londarnya (londar - denai). Maknanya: Nasib yang tidak dapat ditentukan.

116. Dihentak alu luncung (luncung - lancip tetapi tidak runcing di hujungnya).
Maknanya:

117. Dientak (hentak) tak masuk, diumpil tak bergerak. Maknanya: Dialahkan oleh orang yang bodoh.

118. Digantung tidak bertali.
Maknanya: Hal seorang yang menjadi gundik yang tidak sah atau yang telah ditinggalkan suaminya tetapi belum ditalak.

119. Digantung tinggi, dibuang jauh.
Maknanya: Tidak berkuasa sedikit jua; lemah sekali.

120. Digantungkan tinggi, digalikan dalam.
Maknanya: Perjanjian yang diperbuat dengan syarat-syarat yang teguh.

121. Digenggam takut mati, dilepaskan takut terbang. Maknanya: Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.

122. Digenggam tiada tiris.
Maknanya: Sangat berhemat dan hati-hati dalam mengeluarkan wang.

123. Dihujani kering, dijemur basah.
Maknanya: Berbuat sesuatu pekerjaan yang menyusahkan orang lain.

124. Diidam seperti babi lemak (diidam - menaruh dendam).
Maknanya: Dendam yang tak habis.

125. Diimbau berbunyi, dilihat bersua (diimbau - dipanggil).
Maknanya: Kebenaran yang tak dapat dibantah.

126. Diindang ditampi teras, dipilih antah satu-satu. Maknanya: Jika hendak mencari isteri, menantu atau pegawai hendaklah diusul periksa betul-betul jangan tersalah pilih.

127. Diiringkan menyepak, dikemudiankan menanduk. Maknanya: Keadaan yang serba salah, terutama dalam menghadapi orang bodoh; diajak berunding tak tentu fikirannya, tak diajak ia marah.

128. Dijemba-jemba bagai bersiang, dihela surut bagai bertanam (bersiang - membersih-bersihkan).
Maknanya: Mengatur-atur sesuatu supaya baik.

129. Dijual sayak, dibeli tempurung.
Maknanya: Yang baru tidak berbeza daripada yang lama.

130. Dijunjung merekah kepala, dipikul meruntuh bahu. Maknanya: Perintah atau hukuman yang sangat berat dan keras.

131. Dikacak betis sudah bak betis, dikacak lengan sudah bak lengan (dikacak - dipegang).
Maknanya: Orang yang menyangka dirinya telah cukup kuat (tentang wang atau akal) sehingga tidak perlu meminta bantuan daripada orang lain lagi; angkuh dan sombong.

132. Dikatakan berhuma lebar, sesapan di halaman (sesapan - semak belukar).
Maknanya: Memegahkan harta milik dan kebolehannya, tetapi harta milik dan kebolehannya itu tidak seberapa.

133. Dikatakan mati emak, tak dikatakan mati bapa. Maknanya: Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.

134. Dikati sama berat, diuji sama merah.
Maknanya: Pangkat atau kedudukan yang sama.

135. Dikembar seperti benang.
Maknanya: Perempuan yang menduakan suaminya.

136. Dikerkah dia menampar pipi, dibakar dia melilit puntung.
Maknanya: Tidak mahu mendiamkan diri terhadap perlakuan yang tidak baik.

137. Dikulum menjadi manikam, dimuntahkan menjadi sekam.
Maknanya: Diam itu lebih baik daripada berkata-kata.

138. Dikunyah patah gigi, ditelan sembelit.
Maknanya: Membuat sesuatu pekerjaan tanpa pengetahuan adalah sia-sia saja.

139. Dilahir serupa tidak, dibatin menggunting angin. Maknanya: Hidup dalam pura-pura; pada lahirnya tidak suka tetapi batinnya ingin mendapat lebih banyak lagi.

140. Dilambai tak nampak, diseru tak dengar.
Maknanya: Tiada mahu mendengar nasihat orang.

141. Dilelar timba ke perigi; tak sekali, sekali pecah juga (lelar - berulang-ulang).
Maknanya: Sesuatu perbuatan yang tak baik itu jika diulang maka lambat-laun jahat juga padahnya.

142. Dilengah (dimabuk) beruk berayun.
Maknanya: Asyikkan sesuatu yang tidak ada gunanya.

143. Dilihat galas berlaba, dihitung pokok termakan. Maknanya: Lahirnya saja untung, tetapi yang sebenarnya rugi.

144. Dilihat si pulut, ditanak berderai.
Maknanya: Kelihatan seperti orang kaya, tetapi yang sebenarnya miskin.

145. Dilumas dengan daun katang-katang.
Maknanya: Sangat marah.

146. Dimakan kapang habis berlubang (kapang - sejenis teritip).
Maknanya: Menderita penyakit kelamin.

147. Dimakan mati emak, diluahkan mati bapa.
Maknanya: Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.

148. Dimandikan dengan air segeluk.
Maknanya: Pujian yang tidak ada ertinya; pertolongan yang tidak mencukupi.

149. Diminta tebu diberi tembarau (tembarau - gelagah, temerau).
Maknanya: Yang diberi berlainan daripada yang diminta.

150. Dinding teretas, tangga terpasang (retas - toreh dengan senjata tajam).
Maknanya: Kejadian yang sudah cukup buktinya.

151. Dipandang dekat, dicapai tak boleh.
Maknanya: Sesuatu yang kita inginkan tetapi tiada berdaya untuk mengambilnya.

152. Dipanggang tiada hangus.
Maknanya: Selamat dalam menempuh berbagai-bagai percubaan.

153. Dipegang lengan sudah bak lengan, dipegang betis sudah bak betis.
Maknanya: Orang yang menyangka dirinya telah cukup kuat (tentang wang atau akal) sehingga tidak perlu meminta bantuan daripada orang lain lagi; angkuh dan sombong.

154. Diperbesar isap (hisap), hitam bibir.
Maknanya: Membelanjakan wang dengan boros dan akhirnya hidup melarat.

155. Diperluas parak, tidak disiangi.
Maknanya: Kalau mata pencarian sudah bertambah, hendaklah dijaga dengan baik-baik.

156. Dipujuk dia menangis, ditendang dia tertawa. Maknanya: Kelakuan yang tidak senonoh.

157. Dipukul lutut sakit, direngkuh siku ngilu.
Maknanya: Keadaan yang serba salah.

158. Diraih siku ngilu, direngkuh lutut sakit.
Maknanya: Keadaan yang serba salah.

159.Diratapi langau hijau.
Maknanya: Anak dagang yang mati di rantau orang.

160. Direbus tak empuk.
Maknanya: Sangat sukar dikalahkan.

161. Direndam tak basah.
Maknanya: Sangat sukar dikalahkan.

162. Dirintang siamang berbuai.
Maknanya: Asyikkan sesuatu yang tidak ada gunanya.

163. Disambut dengan penyapu tak bersimpai.
Maknanya: Dihalau keluar dari sesuatu majlis keramaian kerana dibenci orang.

164. Disangka panas sampai ke petang, kiranya hujan tengah hari.
Maknanya: Disangka akan baik atau mulia selama-lamanya, tetapi tiba-tiba ditimpa bahaya, sehingga jatuh melarat.

165. Disangka tiada akan mengaram, ombak yang kecil diabaikan.
Maknanya: Mendapat bahaya kerana memandang ringan akan perkara (bahaya) yang kecil.

166. Disangkakan bedena timbul, terpeluk bangkai babi bengkak hanyut.
Maknanya: Orang tamak yang tiada tahu membezakan yang baik dengan yang buruk.

167. Disangkakan langit itu rendah: dipandang dekat, dicapai tak dapat.
Maknanya: Sesuatu pekerjaan hendaklah dicuba membuatnya lebih dulu sebelum dikatakan mudah atau susah.

168. Disigai sampai ke langit.
Maknanya: Diselidiki dan diperiksa dengan saksama sehingga bertemu.

169. Disisih bagai antah.
Maknanya: Diasingkan daripada yang lain kerana tidak disukai; tidak boleh ikut campur kerana miskin.

170. Disuruh dituruti, berserah sekehendak hati.
Maknanya: Harap-harap percaya tidak.

171. Disuruh pergi dipanggil datang, bekerja kerana perintah, berhenti kerana tegah.
Maknanya: Patuh menurut perintah.

172. Ditakik bagai berendang, disepakkan bagai berayam.
Maknanya: Pemberian gelaran yang tidak ada ertinya.

173. Ditakik getah di daun.
Maknanya: Hidup melarat.

174. Ditambat tidak bertali.
Maknanya: Hidup di luar nikah.

175. Ditanaknya semua berasnya.
Maknanya: Semua kepandaiannya diperlihatkan sekali gus.

176. Ditanam tebu di telinga, berkembang bunga raya di muka.
Maknanya: Gembira oleh kerana mendengar pujian.

177. Ditangkap buaya, nampak riaknya; ditangkap malas tak bertanda.
Maknanya: Sifat malas seseorang tak dapat dilihat sebelum disuruh membuat sesuatu kerja.

178. Ditarik ia menanduk, digiring ia menyepak.
Maknanya: Orang bodoh, yang tidak mahu menurut bicara orang.

179. Ditatang di anak lidah.
Maknanya: Sangat kasih akan anak isterinya.

180. Ditatang bagai minyak penuh.
Maknanya: Diperlakukan dengan sangat hati-hati.

181. Ditebuk tikus (tupai).
Maknanya: Sudah hilang gadisnya.

182. Ditelan tak sengkang.
Maknanya: Semuanya berjalan dengan lancar.

183. Ditembak dengan peluru petunang.
Maknanya: Perundingan yang berhasil baik.

184. Ditempuh nyamuk terbalik, ditindih lalat tak dapat bangkit.
Maknanya: Terlalu lemah.

185. Ditentang langit, langit; ditentang bumi, bumi.
Maknanya: Tidak ada tempat bergantung, melarat sekali.

186. Ditetak belah dipalu belah, tembikar juga akan jadinya.
Maknanya: Walau diseksa atau disakiti sekalipun, namun kesudahannya menjadi mayat juga.

187. Ditiarapkan tiada keluar, ditelentangkan tiada masuk.
Maknanya: Menghadapi perkara yang sangat sulit.

188. Ditindih yang berat, dililit yang panjang.
Maknanya: Kemalangan yang tak dapat dielakkan; tak dapat melepaskan diri daripada kekuasaan orang.

189. Dititik belah, dipalu belah (datar).
Maknanya: Sesuatu kerosakan yang tak dapat diperbaiki lagi.

190. Ditolak tak tumbang.
Maknanya: Pendirian yang teguh; orang yang banyak harta.

191. Dituba sajakah ikan, dijala dijaring bukankah ikan? Maknanya: Tidak malu melakukan kejahatan.

192. Ditumbuk dikisar barulah lumat.
Maknanya: Hendaklah berusaha dengan bersungguh-sungguh hati untuk memperoleh sesuatu barang yang dikehendaki.

193. Diturutkan gatal tiba ke tulang.
Maknanya: Jika diturut kehendak hawa nafsu, akhirnya jadi binasa.

194. Diuji sama merah, ditahil (dikati) sama berat.
Maknanya: Sudah sepadan benar.

195. Diuji timbang lebih sesaga.
Maknanya: Perbezaan yang sangat kecil.

196. Dua badan senyawa.
Maknanya: Sangat karib.

197. Dua ekor gajah berjuang, seekor kancil mati tersepit di tengah.
Maknanya: Orang kecil yang mencampuri pergaduhan antara orang besar-besar akhirnya ia sendiri yang binasa.

198. Dua kali dua empat.
Maknanya: Sama saja.

199. Duduk berkelompok, tegak berpusu (berpusu - berduyun-duyun, berkumpul).
Maknanya: Mencari orang yang sama setaraf dalam sesuatu majlis.

200. Duduk berkisar, tegak berpaling.
Maknanya: Memungkiri apa yang telah dikatakan dulu.

201. Duduk berkurung siang malam.
Maknanya: Orang yang tak keluar-keluar dari rumahnya.

202. Duduk dalam duri yang banyak, bersandar di batang rengas.
Maknanya: Hidup yang serba salah, kerana menghadapi bencana.

203. Duduk dengan cupak dan gantang.
Maknanya: Ketua yang adil.

204. Duduk dengan sukatan.
Maknanya: Orang yang kaya.

205. Duduk di ambung-ambung taji.
Maknanya: Selalu dalam kekhuatiran.

206. Duduk di dalam tabir langit-langit, berbau tembelang (tabir langit-langit - tabir tenda; tembelang - telur busuk).
Maknanya: berkurung di dalam rumah, tetapi kejahatannya telah tersiar ke mana-mana.

207. Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak.
Maknanya: Selalu bekerja tidak berhenti-henti.

208. Duduk sama rendah, berdiri (tegak) sama tinggi. Maknanya: Sama setaraf.

209. Duduk sehamparan, tegak sepematang.
Maknanya: Dua orang yang sama darjatnya di dalam adat.

210. Duduk seorang bersempit-sempit, duduk banyak (bersama) berlapang-lapang.
Maknanya: Buah fikiran yang diperoleh di dalam sesuatu perundingan itu lebih baik daripada buah fikiran kita sendirian saja.

211. Duduk seperti kucing, melompat seperti harimau. Maknanya: Orang pendiam yang tangkas bekerja dan berfikir.

212. Dulu intan daripada jawi.
Maknanya: Bekerja dengan tidak menurut peraturan.

213. Dulu besi, sekarang timah.
Maknanya: Orang berpangkat yang telah diturunkan pangkatnya.

214. Dulu buah daripada bunga; dulu duduk daripada cangkung.
Maknanya: Beranggapan sudah memiliki sesuatu barang yang belum tentu diperoleh.

215. Dulu intan, sekarang jadi batu buatan.
Maknanya: Orang berpangkat yang telah diturunkan pangkatnya.

216. Dulu parang, sekarang besi.
Maknanya: Sudah rosak, tidak dapat dipakai lagi.

217. Dulu permata intan, sekarang batu Belanda.
Maknanya: Orang berpangkat yang telah diturunkan pangkatnya.

218. Dulu rampak rimbun daun, kini 'lah sangat merarasi (raras - gugur, luruh).
Maknanya: Dulu kaya dan cantik, kini papa dan buruk.

219. Dulu sorak, kemudian tohok (tohok - campak buang yang diberi bertali).
Maknanya: Menggembar-gemburkan sesuatu yang belum terjadi.

220. Dulu timah, sekarang besi.
Maknanya: Orang kecil memperoleh pangkat tinggi.

221. Dulukan yang dulu merasa garam.
Maknanya: Mengutamakan orang tua-tua di dalam sesuatu pekerjaan.

222. Dunia diadang, saku-saku dijahit.
Maknanya: Mahu bersuka ria, tidak mahu merugi.

223. Duri di hutan siapa pertajam.
Maknanya: Kekuasaan Tuhan tidak ada batasnya.

224. Durian dengan mentimun, menggolek rosak, kena golek binasa.
Maknanya: Orang yang lemah itu tidak berdaya untuk melawan orang yang berkuasa, kerana baik, salah ataupun benar dia juga yang menanggung kerugian.

225. Durian seambung dengan timun.
Maknanya: Jika orang yang kuat dan khianat berhimpun dengan orang lemah dan baik, nescaya binasalah yang lemah dan baik itu.


Readmore

Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "G"


Peribahasa Yang Bermula Dengan Huruf "G"

01. Gajah harimau di hutan hendak diburu, pijat-pijat di bantal tak dapat dihapuskan.
Maknanya: Kejahatan orang besar dan orang yang lebih kuat daripada kita hendak dibasmi, kejahatan anak buah sendiri di rumah tiada dapat di atasi.

02. Gajah hendak berak besar, kita pun hendak berak besar juga.
Maknanya: Hendak meniru-niru perbuatan orang besar (kaya), akhirnya diri sendiri binasa.

03. Gajah lalu dibeli, kusa tidak terbeli (kusa - besi penghalau gajah).
Maknanya: Mengerjakan sesuatu yang besar, tetapi melupakan hal-hal yang kecil-kecil yang perlu untuk menyelesaikan yang besar itu.

04. Gajah lalu kumpai layu (kumpai - sejenis rumput layu).
Maknanya: Hendak meniru-niru perbuatan orang besar (kaya), akhirnya diri sendiri binasa.

05. Gajah masuk kampung, kalau kayu (pohon) tak tumbang, rumput layu juga.
Maknanya: Orang yang berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya dalam lingkungan orang lemah (orang kecil).

06. Gajah mati dicatuk katak.
Maknanya: Orang berkuasa dapat dialahkan oleh orang lemah; perempuan bangsawan yang diperisteri oleh orang kebanyakan.

07. Gajah mati kerana gadingnya.
Maknanya: Mendapat kecelakaan kerana kelebihannya.

08. Gajah mati meninggalkan tulang, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Maknanya: Orang baik meninggalkan nama baik, orang jahat meninggalkan nama jahat.

09. Gajah mati, tulang setimbun.
Maknanya: Orang kaya yang mati banyak meninggalkan hartanya.

10. Gajah memamah aris, baik diikat kera kecil yang memakan buah kayu (aris getah kayu yang sudah beku).
Maknanya: Daripada mengharapkan sesuatu yang besar yang tak mungkin didapati, lebih baik terima saja yang sedikit yang sudah ada di dalam tangan.

11. Gajah pengangkut lada, kuda pelejang bukit (lejang - melompat serta lari).
Maknanya: Anak muda yang menjadi pesuruh orang, kerana pujian-pujian.

12. Gajah rompong belalai.
Maknanya: Raja yang tiada berkuasa.

13. Gajah sama gajah berjuang, pelanduk mati di tengah-tengah.
Maknanya: Kalau raja-raja berselisih, rakyat mendapat susah.

14. Gajah seekor gembala dua.
Maknanya: Sesuatu pekerjaan dikepalai oleh dua orang; dua orang lelaki mencintai seorang perempuan.

15. Gajah terdorong kerana gadingnya, harimau terlompat kerana belangnya.
Maknanya: Berbuat sesuatu yang kurang baik untuk kelebihannya.

16. Gajah terum di tengah rumah (terum - duduk, dikatakan hanya tentang gajah).
Maknanya: Orang besar-besar bertamu ke rumah orang miskin, sehingga menyusahkan orang yang menerimanya itu.

17. Galas habis senggulung tandas, lamun dihitung rugi juga.
Maknanya: Perniagaan yang tidak menguntungkan; pekerjaan yang sia-sia.

18. Galas terdorong kepada Cina.
Maknanya: Telah terlanjur, tidak dapat dicabut atau ditarik kembali.

19. Gali lubang menutup lubang.
Maknanya: Meminjam wang untuk membayar hutang.

20. Gamak-gamak seperti menyambal.
Maknanya: Hanya dengan cuba-cuba atau kira-kira saja.

21. Ganti hidup berkeredaan, ganti mati berkebulatan. Maknanya: Mencari ganti seseorang ketua harus dengan muafakat.

22. Gantung tak bertali, salai tak berapi.
Maknanya: Isteri yang ditinggalkan suaminya tanpa diceraikan dan tanpa nafkah hidupnya.

23. Garam di laut, asam di darat, bertemu dalam belanga juga.
Maknanya: Perempuan dan lelaki, kalau sudah jodoh, bertemu juga akhirnya.

24. Garam dikulum tak hancur.
Maknanya: Orang yang pandai menyimpan rahsia.

25. Garam jatuh di air.
Maknanya: Nasihat yang diterima dengan baik.

26. Garam tumpah apakah (pada) tempatnya.
Maknanya: Orang yang hina yang meninggal tidak dihiraukan orang sangat.

27. Gar-gar, kata gelegar, rasuk juga yang menahannya. Maknanya: Memang mudah menyuruh berbuat begini begitu, tetapi yang sukar ialah yang mengerjakannya.

28. Garuda diburu layang-layang yang dapat.
Maknanya: Barang yang diperoleh tidak seimbang dengan yang diinginkan.

29. Gaya saja, rasanya wallah.
Maknanya: Rupanya saja yang elok, tetapi budi pekertinya buruk.

30. Gayung bersambut, kata berjawab (gayung - pukulan).
Maknanya: Serangan ditangkis, kata dijawab; baik dibalas dengan baik, jahat dibalas dengan jahat.

31. Gayung tua, gayung memutus.
Maknanya: Perkataan orang tua biasanya tepat.

32. Gedang gerundang di kubangan, gedang ikan raya di lautan (gerundang - berudu).
Maknanya: Tiap-tiap orang besar (mulia) di tempatnya masing-masing.

33. Gedang kayu, gedang dahannya.
Maknanya: Banyak penghasilan, banyak pula belanjanya.

34. Gedang sebagai dilambuk-lambuk, tinggi sebagai dijunjung.
Maknanya: Memegahkan diri sendiri dengan kelebihan yang sebenarnya tidak ada.

35. Gelagah boreh rambutan, orang berbunga dia berbunga, orang berbuah dia tidak (gelagah boreh rambutan jantan).
Maknanya: Orang yang meniru-niru perbuatan orang lain kerana mengharapkan keuntungan, tetapi perbuatannya itu sia-sia belaka.

36. Gelang di tangan orang yang hendak dirampas tidak dapat, cincin di jari sendiri terlucut hilang.
Maknanya: Orang yang dengki dan tamak itu selalu mendapat kerugian.

37. Gelang tidak laga sebentuk, laga keduanya.
Maknanya: Cinta kasih mestilah datang daripada kedua-dua belah pihak.

38. Geleng seperti si patung kenyang.
Maknanya: Berjalan melonjak-lonjak kerana sombongnya.

39. Gemuk membuang lemak, cerdik membuang kawan.
Maknanya: Sesudah kaya atau berpangkat tidak mahu menolong atau bergaul dengan keluarganya.

40. Geneng di tengah lebuh, tahan galah bersijingkat; geneng di tengah medan (gelanggang), tahan taruh di ayam kuyu (geneng - gagah).
Maknanya: Menunjukkan gagah kepada orang terpaksalah mengeluarkan wang untuk menolong ataupun untuk perjamuan makan minum.

41. Genggam bara api biar sampai jadi arang.
Maknanya: Membuat sesuatu pekerjaan yang susah, hendaklah sabar sehingga mencapai kejayaannya.

42. Genggam-genggam bara, terasa hangat dilepaskan. Maknanya: Melakukan sesuatu pekerjaan dengan setengah-setengah hati, terasa sukar, lalu ditinggalkan.

43. Genta saja yang berbunyi, kuda sudah dek gerindin (gerindin - kena sejenis penyakit yang biasa menyerang kuda, badannya gementar macam kedinginan).
Maknanya: Orang yang masih bagus berpakaian dan gaya congkaknya, tetapi wangnya tiada lagi atau berpenyakitan.

44. Genting menanti putus, biang menanti tembuk.
Maknanya: Suami isteri yang hampir bercerai; perkara yang hampir putus.

45. Geruh luka ajal mati.
Maknanya: Untung baik luka saja; untung tak baik, mati.

46. Geruh menempuh dalam tubuh (geruh - sial, malang).
Maknanya: Nasib buruk yang mempengaruhi diri.

47. Geruh tak berbunyi, malang tak berbau.
Maknanya: Kemalangan terjadi tanpa diketahui.

48. Geruh tak mencium bau.
Maknanya: Kemalangan terjadi tanpa diketahui.

49. Gerundang, tinggallah di kubangan!
Maknanya: Jangan mencampuri pekerjaan orang lain!

50. Getah meleleh ke pangkal, daun melayang jauh.
Maknanya: Anak sendiri lebih dikasihi daripada anak saudara.

51. Getah terbangkit (diangkat) kuaran tiba (kuaran - burung kuak-kuak).
Maknanya: Perhitungan yang salah.

52. Getikkan puru di bibir (getik - menggetil).
Maknanya: Tak dapat membencikan anak isteri atau keluarga yang buruk kelakuannya.

53. Getu sementara lagi bintik.
Maknanya: Sesuatu bahaya hendaklah dihindarkan selagi kecil agar jangan sampai menimbulkan malapetaka.

54. Gigi dengan lidah ada kalanya bergigit juga.
Maknanya: Kerap kali juga timbul perselisihan antara suami isteri, sanak saudara dan sahabat handai.

55. Gigi tanggal, rawan murah.
Maknanya: Keinginan datang sesudah tak ada kesempatan lagi.

56. Gigi telah gugur, tebu pun menjadi.
Maknanya: Keinginan datang sesudah tak ada kesempatan lagi.

57. Gila di abun-abun (abun-abun angan-angan).
Maknanya: Mengangan-angankan sesuatu yang mustahil.

58. Gombak gemilang kutu banyak, bibir hitam gigi kotor (gombak - rambut, jambul).
Maknanya: Bersih dan cantik di luar, tetapi hatinya busuk.

59. Gulai sedap nasi mentah, nasi sedap gulai mentah. Maknanya: Perbuatan yang tidak sempurna.

60. Gulai terlampau serai maung rasanya.
Maknanya: Perbuatan (perkataan) yang berlebih-lebihan akhirnya akan menjadi sia-sia.

61. Guna-guna alu, sesudah menumbuk dicampakkan. Maknanya: Digunakan sewaktu ada perlunya, setelah itu ditinggalkan.

62. Gundahkan buah dimakan burung.
Maknanya: Bersusah hati terhadap wanita yang sudah menjadi isteri orang.

63. Gunung juga yang dilejang panas.
Maknanya: Biasanya orang yang sudah kaya juga yang mendapat untung atau bertambah kekayaannya; orang yang telah biasa berbuat kejahatan, tentu dituduh bila terjadi kejahatan.

64. Gunung yang tinggi akan runtuh, jika setiap hari digali.
Maknanya: Biar bagaimana sekalipun banyaknya harta, akan habis juga jika selalu diboroskan dan tiada ditambah-tambah.

65. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Maknanya: Murid yang mencontohi kelakuan gurunya terutama dalam hal yang tidak baik.

66. Gaharu dibakar kemenyan berbau.
Maknanya: Memperlihatkan kelebihannya supaya dipercayai orang.

67. Gajah berak besar, kancil (pelanduk) pun hendak berak besar, akhirnya mati kebebangan.
Maknanya:Hendak meniru-niru perbuatan orang besar (kaya), akhirnya diri sendiri binasa.

68. Gajah bergajah-gajah, pelanduk mati tersepit.
Maknanya: Kalau raja-raja berselisih, rakyat mendapat susah.

69. Gajah berhati, kuman pun berhati juga.
Maknanya: Kalau raja-raja berselisih, rakyat mendapat susah.

70. Gajah berjuang sama gajah, pelanduk (kancil) mati di tengah-tengah.
Maknanya: Kalau raja-raja berselisih, rakyat mendapat susah.

71. Gajah dialahkan oleh pelanduk.
Maknanya: Orang berkuasa dapat dialahkan oleh orang lemah; perempuan bangsawan yang diperisteri oleh orang kebanyakan.

72. Gajah dipandang seperti kuman.
Maknanya: Terlalu marah.

73. Gajah ditelan ular lidi.
Maknanya: Orang berkuasa dapat dialahkan oleh orang lemah; perempuan bangsawan yang diperisteri oleh orang kebanyakan.

74. Gajah empat kaki lagi tersaruk.(tersaruk - tersandung).
Maknanya: Orang besar-besar itu ada waktunya akan kehilangan kebesarannya; nasib tidak dapat ditentukan.

75. Gabak di hulu tanda akan hujan, cewang di langit tanda akan panas (gabak - redup).
Maknanya: Ada tanda-tanda yang menunjukkan akan terjadi sesuatu hal.

76. Gadai terdorong ke (pada) Cina.
Maknanya: Telah terlanjur, tidak dapat dicabut atau ditarik kembali.

77. Gadai terdorong ke pajak, sehari sebulan juga.
Maknanya: Perbuatan yang terlanjur, sekalipun sedikit akibatnya sama juga dengan yang besar.

78. Gading pada gajah yang sudah keluar itu bolehkah dimasukkan pula?
Maknanya: Raja-raja (orang besar-besar) yang telah turun derajatnya (darjatnya), tak mungkin mencapai kembali martabatnya itu; sesuatu yang sudah ditetapkan (undang-undang, keputusan dan sebagainya) tiadalah dapat diubah lagi.

79. Gagak bersuara murai.
Maknanya: Rupanya hodoh tetapi suaranya merdu dan baik budi bahasanya.

80. Gagak dimandikan tujuh kali sehari pun, takkan putih bulunya.
Maknanya: Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.

81. Gagak lalu punggur rebah.
Maknanya: Orang besar yang berlaku kurang adil kepada orang kecil, kerana mahu memperlihatkan kekuasaannya.


Readmore

Teman Setia

Template Modified By Seri Bahasa Proud To Be A Kinabatangan Blogger